Tampilkan postingan dengan label Karya Ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Ku. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Maret 2014


“Serang saja angkot Serang!”

Angkot Serang bagiku adalah perkawinan gaya taxi dan metromini. ‘Ke Pocis?’  ‘ya’ dengan baiknya angkot berwarna biru itu meluncur dengan empat rodanya mengikuti apa permintaan dari penumpang, itu kalau beruntung seperti taxi meminta ke daerah a,b,c hingga z pasti dituruti. Kalau buntung?  Siap-siaplah menahan amarah. Kau bisa diturunkan dimanapun yang supir angkot inginkan. Jika kau adalah adalah kaum homogeny arah tujuan siap-siap kau akan diturunkan di daeran sopir angkot yang dia mau, belum lagi ngetem yang membuatmu harus mencampur batin ikhlas dan sabar.

Minggu, 09 Maret 2014

Kakak udah solat isya.
Nggak usah dibangunin ya Dillaa chibi!! :D.
Ngantuk berat nih!
Sebuah note dari kertas robekan tertempel di lemarinya. Sudah tiga malam kakak seperti ini, tidur lebih awal. Ketika membuka pintu depan, kebiasannya lupa mengunci pintu. Lagian, rumah ini tidak begitu memesona. Putih tembok, itu bertahun yang lalu dan kini? Sepertinya sudah berganti warna menjadi abu-abu. 

Senin, 03 Februari 2014

“Hei, bisakah kau diam  tak mengoceh sedikit pun? Bisakah? Aku muak denganmu!”
“Heei, perlukah berulang kali aku katakan diam!”
“Apakah kau tuli? Diaaam! Ku  Bilang!”
“Ku mohon, diam dan jangan menggodaku!”
“Persetan!”

Jumat, 31 Januari 2014


Aku tak pernah peduli dengan mereka, yang saban hari menggunakan celana, kemeja, kaos, blazer, koko, jaket, cupluk. Aku tak peduli. Karena mereka sama. Mahluk yang diturunkan Tuhan untuk melengkapi kehidupanku. Kamu, dia, mereka! Melengkapi kekuranganku, menyeimbangkan kelebihanku. Itu yang kutahu.

Jumat, 31 Mei 2013



          Pada jarak-jarak waktu aku selalu menunggu. Sebuat cita dalam cinta yang kudapatkan dalam detakan waktu.  Di bulan April ini begitu banyak langkah-langkah cinta yang kuharap, segala ketulusan cinta itu menjadikan cita ku menggebu.
          Dalam masa yang semakin bertambah, ada cita yang bergemuruh tak terbantah. Berbagai targetan impian, ku tulisakan dalam catatan impian ku. Berharap semua dapat tercoret sempurna.
          “Oke, fiks. Go to padang. Go to Jakarta. Go to Aceh. Allahuma Aamiin. Oh once again jadi pengajar! Eh, the winner di Bem univ nulis esai” selepas merangkainya ku tempelkan di mading hijau.
          Kehidupan berjalan dengan baik. Menulis esai dua jam sebelum deadline. Bersyukur panitia begitu baik hingga masih mau menerima tiga halaman esai yang telah kubuat. Kemudian menunggu dengan penuh doa.
          Di sela-sela kehidupan masa mahasiswa, yang tiap hari tak pernah terhindar akan tugas yang bejibun. Organisasi yang selalu ada di setiap bilik hati ini, bagaimana tidak? Di keluarga kelas menulis ini aku menjadi salah satu petinggi disini. Harus bisa mengayomi adik-adik tingkat, memberikan teladan, menyamangati mereka. Lomba Karya Tulis Al Quran, menjadi satu langkah untuk memberikan contoh dan semangat kepada adik-adik tingkat,  mengijakan kaki di kota yang terkenal makanan pedasnya.
Menambah khasanah ilmu, menjaring sahabat baru, terbang gratis. Ah memang segala alasan menjadi penggerak aku, Lita, Rika untuk mengorbankan malam tak tidur, akhir pekan tidak pulang kampung, dan sibuk mencari buku referensi di perpustakaan.
          “Semangat Rara! Go to padang!” ucap Lita menggebu-gebu sambil menepuk bahuku, melihat mataku yang sudah tak karuan bentuknya.
          LKTIA itu Alhamdulillah sudah mendapat beberapa referensi, dan saatnya hari ini fokus menjawab pertanyaan lima penguji. Kini kuberada di LPPM universitas dimana aku menuntut ilmu. Ada tigapuluh peserta lintas fakultas jurusan yang mengikuti seleksi KKM Nasional ini, dan mereka semua adalah aktivis.
          “Apa yang kamu ketahui tentang Aceh?”
          “Apa program kerjamu jika terpilih?”
          “GAM, tidak takutkah kamu nanti KKM disana?”
          “Rara, kamu seorang perempuan memangnya berani?”
          Lebih dari tiga pertanyaan terlontar  yang harus dijawab dengan cepat dan tepat. Malangnya nasibku, selalu mendapatkan pertanyaan terakhir. Apakah karena aku hanya satu-satunya wanita yang berada di kelompok 2 wawancara ini? Jika karena aku berjenis kelamin wanita penyebabnya, ini sungguh diskriminasi. Setiap jawaban yang aku sampaikan terkesan copas dari jawaban-jawaban teman-temanku sebelumnya, ya nasib mendapatkan pertanyaan terakhir. Hanya berusaha menjawab sebaik mungkin, tanpa ada copas argument sana sini.
          Seleksi KKM Nasional fase wawancara, telah usai walaupun mengorbankan jatah kuliah, tak mengapa. Karena impian itu tak instan, butuh perjuangan keras. Lagi, ku menunggu dengan dipenuhi deruman doa dalam setiap ku menghadap-Nya.
          Sungguh seharian ini begitu berjuang dengan peluh, semangat bergemuruh. Setelah diuji oleh lima penguji, lima ruangan yang berbeda, dan pertanyaan yang sudah tak terhitungkan oleh jari dan hebatnya ku perempuan seorang dalam di kelompok dua, hebatnya lagi satu kelompok dengan mantan ketua himatika, ketua himaguseda, ketua umum pramuka, pengurus BEM-FE. Ke empat teman-teman seperjuangan itu sungguh luar biasa, cerdasnya mereka tak terbantahkan. Pertanyaan terbesar yang bergejolak dalam diri ini siapakah dari kelompokku yang akan menuju Aceh?
          Lagi dan lagi menunggu dan tak bosanya untuk selalu memanaskan doa doa yang ku mohon pada Maha Pecinta. Setibanya di masjid, waktu masih jauh menunjukkan waktu adzan ashar. Langsung ke memanfaatkan waktu membuka sibiru, mengkoneksikannya dengan wifi kampus yang tersedia. Mudah, memiliki akun NIM disertai password sesuai yang diinginkan “Tik.. tak tik”, sudah terkoneksi dengan cepat.
          Jemariku dengan lincah memasukan situs www.FIM.com. Hari ini, hari penantianku selama 31 hari. Penantian dipinang oleh FIM untuk mengikuti rangkaian leadership di Jakarta. Sungguh kalau bukan sahabatku di IPB, pasti sudah ku acuhkan kegiatan FIM ini. Kaze sahabat satuku ini telah berkoar-koar kehebatan kegiatan FIM yang pernah dirasakan olehnya. Ku masukkan username, password di situs FIM, harapan itu semakin berderu kencang. Tak lupa kalimat bismillah yang selalu diingatkan oleh murrabi untuk melakukan kegiatan, aku ucapkan.
          “Tak apa, tahun depan masih bisa!” mencoba tenang, menatap nyinyir dan hati berdesah resah. Satu langkah gagal, masih ada harapan-harapan lain yang masih dalam masa penantian.
          *~*~*
          Setelah berjuang keras, menahan malu dihadapan para audiens saat lomba syarhil quran. Saatnya memantapkan kaki menuju gedung rektorat. Disana ada pengumuman, tiga besar LKTI yang lolos dan akan dipresentasikan esok harinya, kemudian akan dipilih satu terbaik.
          Tiga nama jelas tertempel di mading rektorat, berkali-kali ku menjelikan mata memerhatikan setiap abjad dalam rangkaian nama-nama yang tertera. Tetap saja tak akan mengubah, tidak ada nama Rara Sofia dan Lita Nur Dwi. Sungguh kembali gagal, dan cukup menelan pahit. Kembali belum berhasil merasakan MTQ Nasional di Padang, dan tak akan bisa. Kesempatan terakhir, untuk menunggu dua tahun ke depan itu sangatlah tidak mungkin, sudah dipastikan aku mendapatkan gelar S.Pd dan sahabatku Lita S.p.        
          Tiga hari dalam menunggu rasanya bagaikan tiga tahun menahan rindu. Dalam tiga hari menunggu pengumuman KKM Nasional yang akan dihubungi by phone oleh LPPM, ku persiapkan diri dengan mencari bahan-bahan materi untuk tes tulis. Lagi, aku berharap bisa lolos dan menjadi bagian keluarga besar di Rumah Baru, lembaga bimbel yang katanya popular seIndonesia. “Ya semoga bisa masuk ke Rumah Baru.”
          Kini telepon genggamku yang berwarna hitam yang setengah canggih, bermerkkan nokia 200. Menjadi jantung sebuah pengumuman. Si hitam tidak boleh diberikan kesempatan mati walau sesaat. Maka di tas gendongku, tak pernah lupa membawa chargeran sebagai aliran kehidupan untuk si Hitam jika tetiba mati.
          Si Hitam belum disilentkan. Padahal jarum jam sudah lebih dari tigapuluh menit masa pembelajaran di dalam kelas, tapi tetap saja dosen belum terlihat batang hidungnya. Sambil menunggu dosen yang tak da kabar, ku membalas sms yang datang satu persatu ke telepon genggamku ini.
          “Trala-la..laa” Si Hitam bersuara, nomor baru. Sedikit ragu untuk mengangkat, mengingat sebulan yang lalu aku kecelakaan terhipnotis melalui orang yang menelepon.
          Memberanikan diri, dan mengucapkan lafadzNya “Assalamu’alaikum, halo?” tanyaku mengawali pembicaraan sambil ke luar kelas.
          “Walaikumsalam. Selamat siang bu! Dengan ibu Rara Sofia? Besok  lusa diharapkan datang di Rumah Baru, kebun Jahe untuk mengikuti tes tulis. Pukul 13.00. oke bu? Ada yang ditanyakan?”
          Sekejap kumengingat jadwal. Tak ada kuliah. “Iya bu, bisa terimakasih”
          Sebuah senyum sumringah yang telah mengalihkan pandangan mata yang keheranan menatap ku senyum-senyum sendiri yang memasuki kelas. Tak apa, rasa ini mulai tersiram kabar segar.
          Seratus dua puluh menit berlalu, dengan keributan tak karuan di dalam kelas. Ada yang mengobrol, sore ini mau makan di AW, MOS, CFC, MD. Ada yang menagih uang arisan, di sudut kanan ruangan ada yang menjajakan blazer terbaru, ada kumpulan tiga temanku yang membahas observasi mengajar, hingga ada yang meminta usul ke teman-temanku mengenai buah tangan apa yang pas untuk di hari pernikahannya. Sungguh gambaran kelas yang banyak warna, sedangkan aku menjadi penonton setia mereka, sambil sesekali membaca buku dan satu lagi aku segera memberikan kabar gembira kepada sang guru kehidupan, bahwa aku ditelepon oleh sesosok wanita yang menyuruhku datang untuk tes tulis.
          Sesuai arahan petunjuk sang guru kehidupan. Ku mencari data-data materi yang sekiranya nanti akan menodongku ketika tes tulis nanti. Puisi, pantun, cerpen, pidato, pengumuman, surat dan masih banyak materi bahasa Indonesia yang harus kudapatkan.
          Sekelibat ku melihat sahabatku yang berjalan menuju masjid “ Eh sob, jadi siapa yang KKM Nasional? Lu dah ditelpon?. Hp gw sepi sepi aja nih nggak ada yang nelponin” ucapku to the point.
          “ Wihh udah Ra, pas senin. Gw, Pamungkas, Mantufli, Hana, lolos! Doain ya Ra!” ucapnya sambil meninggalkan jejak sepatu pentopel cokelatnya.
          “Sukses ya Bro!” ucapku teriak, hati ini yang terdalam ikut menjerit. Sudah lebih berkali-kali gagal, lagi dan lagi menelan pil pahit. Padahal luka kemarin masih sedikit menyisakan.
          “Selamat ya adiku sayang! Juara satu esai bem univ, juara 2 aksi” ucapku dengan penuh senyum bangga melihat Ika dan Eni yang menjuarai beberapa lomba. Walau jujur dalam hati ada beberapa luka tersayat, berharap bisa masuk tiga besar dengan adik-adik kelas yang luar biasa ini.
          Setidaknya Ika yang juara 1 lomba esai telah membuatku tersenyum dan bangga memiliki adik yang punya semangat menulis, tulisannya memang indah. Semakin banyak saja orang yang suka menulis, semakin bahagia rasanya.
Belum lagi sahabat Ika, Eni. Dua mahluk ini memang susah dipisahkan, sikapnya yang memiliki kesamaan. Bangga rasanya balutan kebaya putih yang anggun, jilbab panjangnya tidak menghalanginya untuk berkoar mengungkapkan segala keresahan mengenai wanita. Sungguh hari pertama kita berjumpa, kemarin saat mereka memagang tropi, hingga saat ini cinta ini tidak berkurang, yang ada semakin bertambah.
Sudahlah, kertas itu memang tercoret satu demi satu. Walau bukan karena suatu keberhasilan yang diharapkan. Ada yang lebih tahu terbaik untuk diriku. Masih ada cita tak kelabu untuk menjadi bagian dari keluarga Rumah Baru, bisakah? Aku hanya menguatkan tangan, hati, pikiran, otak untuk bersiap tes tulis. Segala cita ini tak akan kelabu..
Bersambung..
Sabtu, 1 Juni 2013|08.29 WIB
Dalam instrument keran|bondan-Kita selamanya|prepare to walimahan senior TRAS|Prepare to babsa peduli|TAK ADA YANG SIA SIA J!!

Kamis, 30 Mei 2013



          Sediamnya diri dalam keheningan, waktu akan selalu berputar. Detak detik jarum jam tidak akan pernah berhenti. Hingga tidak sadar berada di kepala dua. Begitu banyak hal yang harus dipersiapkan secara matang.
          Menjadi dewasa adalah sebuah takdir. Tidak bisa dihindari, atau dilupakan. Perlu kesabaran dalam meraih mimpi-mimpi yang ditargetkan menuju masa dewasa. Dahulu adalah bocah ingusan, sekarang di usia berpuluh harus bisa menjadikan peluh sebagai bahan bakar pertahanan hidup.
          Mandiri dalam finansialpun harus bisa dijadikan patokan targetan hidup. Tidak meminta uang kepada orangtua, bermanja-manja minta dibelikan ini itu, mengemis dibelikan pulsa dan masih banyak segala tindakan anak kecil. Tidak mudah memang, karena itu adalah proses kehidupan.
          Menjadi pengajar adalah kemulian bukan hanya sekedar pilihan semata. Bagaimana bisa memberikan inspirasi dan menanamkan segala ilmu untuk mencerdaskan anak-anak sang harapan bangsa. Terlebih jika ada bayaran setiap peluh tentu bisa dijadikan tambahan dalam kebutuhan hidup sehari-hari.
          Begitupun dengan aku, dalam kebimbangan usia yang semakin bertambah. Hati dilanda resah gelisah tak karuan, tersadar belum dapat makan dengan hasil peluh sendiri. Hingga menghatarkan niat untuk tanpa ragu menaruh amplop cokelat besar berisikan surat lamaran, cv, transkip nilai, poto 2x3 diberikan pada sosok gadis dengan rambut terurai panjang dengan senyuman manisnya. Ku lakukan sesuai instruksi dari “guru kehidupanku”, Maha Kuasa telah menjatuhkannya di atas bumi ini dan kebaiakan Sang Pencipta datang melaluinya, guru kehidupan. Kebingungan yang ada terasa berkurang melalui arahan-arahanya yang tepat dan detail.
          Kebaiakannya tidak hanya sampai memberikan instruksi menaruh amplop. Masih ada kebaikan yang selalu mengisi di Rumah Baru. Rumah Baru yang memiliki begitu banyak misterius. Bangunan yang begitu kokoh dan gagah, penghuninyapun adalah orang-orang pilihan. Sependengaran ku dari cerita teman-teman, hanya orang cerdas, yang dapat menjadikan bagian dari Rumah Baru. Pantaskah diri ini menjadi bagian dari Rumah Baru?
          Sungguh misterius, setelah amplo itu berada di Rumah Baru. Hanya ada kata menunggu yang mampu kulakukan. Menunggu telepon genggam ini mengeluarkan nada klasiknya sambil ada suara dibaliknya mengenai panggilan untuk mengikuti tahap selanjutnya. Berharap penuh, doa itulah yang mampu kulakukan.
          Pantaskah?
To be continued..
Kamis, 30 Mei 2013|21.01 WIB
Dalam keheningan, bertemankan lantunan tilawah. Sudut daru irfan, Serang.

         
          

Senin, 15 April 2013


Bunga Marwan
            Matahari kini mualai meredup, pancaran cahayanya kian berkurang. Desingan suara kendaraan, semakin memekkan telinga. Maklum pukul saat ini menunjukkan jam pulang dari rutinitas, kerja, sekolah, berdagang dan masih banyak lagi kegiatan manusia yang tidak pernah henti-hentinya.
Mengukir pinggiran taman kota adalah mengobati kejenuhan selama duduk di bangku sekolah yang seharian tidak pernah habisnya membahas tentang teori-teori Archimedes. Penat itulah yang dirasakan oleh Inggit gadis berusia 17 tahun.
            “Lagi-lagi nilai IPA gue mengenaskan!” gerutu Inggit sambil bercemin di kolam taman Kota. Sudah berusaha dengan keras, tetapi belum dijodohkan dengan nilai yang memuaskan.
            “Toloooong… tolong…!” suara yang mengalihkan lamunannya.
            “Hiaaat, jiaat! Hap! Argh! Mau kemana kamu?” tinjuan, serangan dan tangkisan gagah memancing puluhan pasang mata tertuju ke arah keributan.
            “Plak! Plak, plak!” tamparan yang berkali-kali terkena wajah pemuda tiada ada rasa tega untuk berhenti bak pukulan aktor ternama Jacki Chan.
            “Bruggh!” pukulan keras, terhantam dengan tepat di pelipis pemuda yang berpakaian serba hitam, dan pria tersebut tak sadarkan diri dalam nafas yang masih sempurna.
            Puluhan pasangan mata itu tidak bosannya berkomat-kamit melihat kejadian yang jarang ditemukan di keramaian taman kota. Seorang perempuan berpakaian putih abu-abu, telah bertarung dan mengalahkan pria berbadan kekar dengan wajah yang sangat menyeramkan.
            “Wahh, si eneng keren!”
            “Gadis yang pintar”
            “Manis, pintar  bertarung”
            “Wonder woman euleh euleuh!”
            Wajahnya memerah tomat, gadis berkerudung itu tidak pernah menyangka bisa mengalahkan pria yang dua kali lipat tubuhnya lebih besar dibandingkan dengannya. Padahal sabuknya baru kuning, dia belum naik sabuk. Amarah karena nilai IPA yang selalu tidak bersahabat ternyata telah menguntungkannya bisa menjadi superhero ditengah keramian orang.
            “Dek, Terimakasih!” Menyeka peluh di dahinya, segera mengulurkan tangan.
            Pria berkemeja biru muda itu, tetap menunggu sambutan tangan mungil Inggit. Wajah Inggit menatap sosok pria yang kini berada dihadapannya. Lesung pipi yang menghiasi wajah ovalnya, rambutnya yang tak karuan berantakan, belum lagi kemeja mahalnya kotor oleh tanah kering. Tapi senyuman pria itu menghipnotisnya, kaku tak bergerak.
            “Dek!” tepukan datang dibahu Inggit.
            “Oh iya, iya. Maaf, maaf, maaf. Makasih untuk apa a?” Gadis kelas 3 SMA itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
            “Tadi, saya yang berteriak minta tolong” ucapnya penuh dengan rasa yang bergemuruh di hatinya. Bahagia karena tas berisi uangnya terselamatkan, malu karena dia ditolong oleh gadis mungil nan manis, belum lagi ditonton oleh puluhan pasang mata yang sedang berada di taman Kota.
            Melihat geraknya yang kaku, setiap langkah kaki berpergian meninggalkan sepasang mahluk yang saling terpesona. Meninggalkan penuh kekagamuan melihat wonder woman berkostum seragam SMA. Dan penjahat pria hitam itu sudah digiring oleh petugas keamanan.
            “Marwan”
            “Inggit”
            Senja yang indah. Menolong orang sudah biasa dilakukan oleh gadis bebulu mata lentik tersebut. Tapi, sosok yang tidak sengaja dia tolong adalah pria yang bagaikan artis ibukota, membawa berkuntum bunga mawar,  berambut ikal, muka yang perpaduan jepang dan Indonesia, simpulan senyum lesung pipinya yang membuat dirinya tambah manis dan mempesona.

*~*~*
            “Namanya Marwan, bawa bunga mawar yang banyak pisan Ma!” wajah berkemeja biru muda itu tidak pernah hentinya hilang dari bayangan yang jatuh di matanya.
            “Serius loh Ingg! Kaya iklan wae.”
            “Serius!”
            “Ehh, kamu kan alergi bunga mawar!” 
            Rima, sahabat satu bangku sejak Sekolah Dasarnya tetap menjadi teman setianya. Mengetahui lekuk seluruh sifat Inggit sang jurnalis yang pandai karate. Sikapnya yang tomboy, pintar, mendapatkan nilai di atas 8 kecuali IPA, supel, selalu menjadi bahan perbincangan para siswa SMA Karya 1.
Begitu banyak keindahan yang jatuh dalam pribadi Inggit, hingga setiap hari tidak pernah lepas di kolong mejanya selalu hadir sekuntum atau berkuntum bunga mawar  hadiah dari penggemar gelapnya. Sedikit sekali siswa SMA Karya 1 yang berani mecantumkan namanya di bunga tersebut. Bersiaplah, maka serangan pukulannya akan hadir kepada pengirim bunga.
Bersinlah setiap hari tanpa pernah absen dari kesehariannya di sekolah ,seketika mencium wangi mawar di kolong mejanya.  Rima dan teman-teman sekelasnyapun merasakan bahagia, karena selalu mendapat bunga dari Inggit.
Senja kemarin, selain senja yang indah ada satu hal yang sangat ajaib. Inggit tidak bersin ketika berkenalan dengan Pria berusia 20 tahun yang memegang berkuntum-kuntum bunga mawar dengan warna yang bervariasi.
“Itu jodoh mu, Git. Hebat!” goda Rima melihat Inggit yang sejak tadi kebingungan dengan rasa yang membuncah di hatinya, ntahlah dia tak tahu rasa apa yang tertanam kini dihatinya. Apakah itu cinta? Ntahlah.
“Jodoh?” tanyanya dalam hati. “Semoga” tambahnya, sambil membuat simpulan senyuman indah.

*~*~*
            “Inggit berangkat ya bu! Mau meliput!” Menancap dengan kekuatan ekstra, mengayuh sepedanya dengan lincah.
            “Iya nak! Hati-hati… sukses meliputnya!” balas teriak ibunya seraya menutup pintu.
            Pagi yang bersahabat, membungkus kehangatan yang kemudian menyebarkan sinarnya ke penjuru dunia. Udara di minggu ini pun begitu segar, sangat segar untuk Inggit karena tidak bertemu dengan mata pelajaran IPA.
Pukul 20.00 WIB, semalam tadi dia mendapat kemudahan untuk mewancarai alumni SMA Karya yang sudah sukses, kuliah lancar dengan bisnis, mendapatkan beasiswa, sering mengikuti lomba, dan dia menjuarainya. Deskripsi sosok tersebut yang disampaikan melalui SMS oleh Alba ketua Jurnalistik disekolahnya, membuat hati Inggit penasaran dan ingin mengenali alumni yang begitu menyihir pikirannya. Gadis yang tak pernah mengenal arti kata pacaran tersebut, tidak sabar merampok ilmu kesuksesan yang telah ditorehkan oleh alumni tersebut.
“Adakah Kaze disini mba? Tadi ketua saya telah menghubunginya, dan saya akan mewancarainya mba!” ucap Inggit dengan memasang senyum termanis, berharap penjaga toko berdarah jawa itu bisa terpencut dengan mudahnya. Dan mengabulkan permohonannya.
“Oalah, sopo? Nggak ada yang namanya itu! Salah alamat jenengan!” jawab wanita berkepang sambil merangkai bunga mawar.
“Kaze mba! Ini jelas alamatnya!” kertas yang sedikit lusuh itu masih tertulis dengan jelas alamat yang dia tuju, dan sesuai.
“Iya, cahayu! Tapi nggak ada yang namanya Kaze disini!” wanita jawa itu tetap setia merangkai bunga.
“ Ada apa mba Tantri?” keluar lelaki yang tinggi, berpakian kaos bertuliskan “ I love Bandung” sambil memegang secangkir teh, dan Koran ditangan kirinya.
“Hai dek!” sambutnya dengan penuh kehangatan dan sambutan terhormat yang pertama kali baru Inggit rasakan.
Kaze adalah nama pena  dari Marwan. Seorang yang sangat berprestasi dimasanya. Semakin meluluhkan hati Inggit yang keras untuk menjalin hubungan dekat dengan kaum adam. Wawancara seputar kesuksesan alumni SMA Karya 1, lebih  mulus dari jalan tol. Bahkan wawancara yang ditargetkan hanya 30 menit, mengulur lebih hingga 3 jam. Bukan lagi membahas untuk hasil tulisannya yang akan dimuat di majalah.
Kisah menarik hidup Marwan atau Arwan panggilan akrabnya yang menjadi trand topic. Lelaki yang pernah juara di tiga besar olimpieade IPA, menjanjikan akan menjadikan dirinya sebagi guru IPA untuk Inggit, tanpa dibayar. Arwan hanya bisa memberkan pembelajaran materi kesukaannya yaitu IPA sebagai balasan atas kebaikan yang telah Inggit lakukan sehari yang lalu. Kagum, itulah rasa yang mengalir dalam aliran darah dua mahluk hidup tersebut. Ya, mereka saling mengaggumi.
*~*~*
            Setiap hari, sepulang sekolah Inggit tidak pernah absen untuk datang ke tokonya. Ajaib. Bunga-bunga mawar yang dijual di toko bunga miliki Arwan, tidak pernah membuat gadis bergigi kelinci tersebut bersin.
            Materi IPA yang membosankan kini disulap oleh mahasiswa tingkat 4 itu menjadi materi pelajaran yang begitu menyenangkan bagi Inggit. Alunan nada romantis, belum lagi disekelilingi oleh puluhan jenis bunga yang sedang bermekaran memebuat suasananya yang sangat indah seperti di film-film drama cinta. “Dia jodohko!” ucapnya dalam hati, sambil mengerjakan soal IPA.
            Perbincangan mengenai keluarga masing-masing, menjadi selingan yang mengasyikkan untuk mereka. Mengenai keadaan Arwan yang harus bangkit dari kesebatang karaan, pahit getir kehidupannya.
            “Ibu mu hebat ya dek! Usianya masih muda, bisa mendidik seorang gadis manis, yang cerdas, baik hati pintar kareta pula. Hebat mendidikmu, tanpa ditemani oleh seorang ayah” pujinya dengan sambil memberikan secangkir teh hangat manis.
*~*~*
            “Beberapa hari ini, kamu sering mendapatkan bunga mawar dari ka Arwan ya! Lihat ruang tamu, dan kamarmu penuh dengan bunga mawar, sayang! Ibu rasa dia suka kamu nak! Oh iya, sayang. Rima, sedih kehilangan dirimu tuh, kalian bertengkar? Ayolah jangan ke toko bunga saja! Bergaul lagilah dengan teman-teman sekelasmu. Ibu rindu sama Inggit yang supel, atau anak ibu jatuh cinta dengan penjual bunga itu” dapur harum akan masakkan yang sedang ibu racik dengan perpaduan bumbu takaran ibu.
            “Ahh ibu!” Ucap Inggit sambil memainkan bunga-bunga yang berada di atas meja makan. “Ya, bu. Apakah ini cinta? Inggit selalu nyaman dengannya, lebih nyaman   dibanding berada bersama Rima dan teman-teman sekelas yang lainnya. Inggit tenang bersamanya, dia jodohku bu, tidak ada yang bisa menghalangi Inggit dengan ka Arwan Kaze” berkata penuh harapan dalam hatinya sambil menatap ibunya yang sedang siap menyajikan sop ayam.
            Sop yang begitu nikmat, apalagi di depanya ada seorang pria yang ikut makan bersamanya. Ah ayah, lupakan! Ayah baginya adalah penghkianat, teganya meninggalkan ibu dengan perempuan lain. Membuat ibu luluh lantah, merawat diri Inggit sendirian sejak satu tahun usianya. Sop ini sudah nikmat. Dimakan bersama orang tersayang, yaitu Ibu, terlebih sosok pria dengan kemeja biru yang kotor terkena tanah, Marwan.
            “Kau, habiskan ya Nak! Ada tamu”. Ibu meninggalkan sop ayamnya yang tinggal setengah lagi habis.
*~*~*
            “Melamar? Bisakah kau tunggu dia hingga lulus SMA? Dia sebentar lagi akan menempuh UN, tentu dek Arwan bisa menunggu dengan sabar ya?” ucapan ibu membuat sendok Inggit terjatuh.
            “Kak Arwan, ingin melamarku? Dia, memang jodohku” tetesan air mata membasahi lesungan pipi gadis mungil tersebut. Makanannya belum habis, dia tak kuasa melangkahkan kaki untuk mengintip di balik daun pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan ruang makan. Dia tak sabar menyaksikan, permohonan yang penuh harap sosok lelelki yang akan menjadi seperuh hidupnya, melihat reaksi ibu, dia tak sabar.
            “Ibu, maaf. Saya ingin melamar ibu. Bukan Inggit”
            “Apa? Saya?”
            “Ibu, hebat! Bisa mendidik Inggit menjadi sosok anak gadis yang begitu patuh, taat, baik hati, cerdas. Saya pun ingin membersamai ibu, untuk mendidiknya. Maukah ibu menjadi istri saya?”
            Senja itu begitu menusuk. Mematahkan setiap tulang yang sudah bersedia menyambut relung jiwa lelaki bermuka japanis. Membuatnya menatap nanar setiap bunga pemberiannya. Bunga mawar itu ternyata untuk ibunya, bukan untuk gadis yang sudah membuka hatinya dengan terbuka. “Bunga Marwan untuk ibu? Lamarannya untuk ibu” penuh luka menuju kamar, dan menutup pintu rapat-rapat.  
           





Jumat, 15 Februari 2013


HARI KASIH SAYANG TIADA BATAS
                Siapa yang tidak ingin saling menyangi satu sama lain? Sayang adalah rasa terindah dari Sang Maha Pecinta. Menjadikan negeri yang makmur akan kedamaian. Rasa yang menggelora tersebut dapat memberikan energi positif untuk mengisi kegiatan setiap harinya.
            Memberikan hadiah, perhatian, hingga senyuman merupakan bentuk dari rasa sayang. Hadiah dapat merekatkan rasa kekeluargaan dan saling menyangi. Hendaknya kamu saling memberi hadiah. Sesungguhnya pemberian hadiah itu dapat melenyapkan kedengkian. (HR. Tirmidzi dan dan Ahmad).  Setiap orang pasti akan senang mendapatkan hadiah tentunya, hadiah yang bermanfaat.
Tidak kalah dengan perhatian, perhatian menjadikan rasa saling memiliki, dan mengukir senyuman terindah sangat mudah dilakukan bukan? Dengan hal terkecil kita dapat membentuk kedamaian dengan saling menyangi.
            Haruskah memberikan hadiah pada satu tanggal di bulan tertentu? Wajibkah membuktikan sayang di tanggal 14 Februari? Ya, hari valantine kawula muda menyebutnya. Hari kasih sayang sering diwarnai dengan cokelat, mawar, dan segala benda yang bernuansa merah muda. Rasanya nggak gaul kalau hanya sekedar ikut-ikutan, tanpa tahu sejarah hari valantine.
Tidak sedikit masyarakat Indonesia yang merayakan hari kasih sayang. Berbagai  macam kegiatan dilakukan dalam valantine day’s. Bertukuran kado, memberikan mawar merupakan hal yang umum sering dilakukan oleh para remaja, tapi bagaimana dengan seks bebas? Tentu menjadikan Negara Indonesia seperti kehilangan jatidirinya. Orangtua, tenaga pendidik akan menggeleng-gelenkan kepala, mengulus dada keprihatinan akan kelewat batas akan budaya luar yang telah mengotori remaja Indonesia.
            Bisa dikatakan menunggu untuk memberikan hadiah untuk yang dikasihi pada tanggal 14 Februari adalah sangat mengirit. Mengapa? Karena hari kasih sayang dengan memberikan hadiah tidak harus menunggu pada tanggal tersebut bukan? Ketika memiliki uang berlebih kita bisa memberikan  hadiah setiap harinya.
            I love u, tidak harus diucapkan pada tanggal 14 Februari saja kan? Selagi bibir masih berfungsi dengan baik, dapat mengucapkan “Aku sayang kamu” di setiap hari, bahkan tidak hanya di setiap hari, setiap, jam, menit juga bisa. Tapi, sudahkah mengucapkan rasa sayang itu untuk orang yang telah berjasa terhadap diri yaitu orang tua. Maka, sangat miris sekali jika mengungkapkan rasa sayang terhadap sahabat, kekasih tapi melupakan kecintaan kepada orangtua.
            Tidak ada larangan untuk berkasih sayang bahkan ada suatu kutipan hadist yang menunjukan bahwa, sebagai mahluk Nya kita diharuskan untuk saling menyangi. Tiada beriman seorang dari kamu sehingga dia mencintai segala sesuatu bagi saudaranya sebagaimana yang dia cintai bagi dirinya (HR. Bukhari).
Rasa sayang yang hadir dari Sang Maha Kuasa adalah hadiah yang dapat menjadi musibah. Musibah ketika rasa sayang yang dihadiahkan oleh-Nya dilampiaskan dengan cara yang tidak benar, dengan melakukan seks bebas yang menimbulkan cibiran untuk sang pelaku, hingga  keluarga bahkan masyarakat di tempat tinggal. Maka berkasih sayanglah dengan cerdas dan sesuai aturan setiap harinya, bukan hanya ssatu hari tertentu, agar Indonesia semakin damai karena kasih sayang yang kita tebar.

Selasa, 15 Januari 2013



Solat adalah tiangnya agama, anak Taman Kanak-kanak pun tahu akan hal itu. Ketika solatlah kita mengadu kepada Sang Kuasa, memohon doa, mencurahkan segala keluh kesah kepada-Nya. Menghadap Sang Khalik haruslah tahu kesopanan, dengan cara mebersihkan diri, berpaikain rapih, memakai haruman dan termasuk yang tidak boleh ditinggalkan yaitu berwudhu. Berwudhu yaitu untuk menghilangkan hadats kecil, apakah pantas seorang hamba menghadap Sang Penciptanya dalam keadaan kotor?Hmm mau ketemu si doi aja segala parfum di coba, baju gonta-ganti ingin terlihat menarik di depan seseorang idaman hati. Malu donk, jika menghadap Allah pakain yang digunakan sebaliknya compang-camping.Apa kata malaikat?Yang terpenting wudhu, masa setelah bekerja yang wajah dibashi dengan keringat langsung solat, walhasil solatnya nggak fresh.Tapi ,fakta berbicara tentangmasalah wudhu dan solat ini, mau tahu kisahnya? Simak terus coreten-coretan jelek di bawah ini.

“Allahu Akbar..allahu akbar, laaillahaillah” kumandang adzan nan merdu telah memanggil. Semua aktifitas dihentkan begitu pun kegiatan pengenalan dunia kampus.Para mahasiswa baru segera menuju gedung-gedung kuliah.
“yahh airnya habis nih, izin aja yuk izin…” gumam seorang maba dengan penuh harapan.
Bertemunya dengan panitia nan gagah, apakah jawaban yang sobat maba dapat? Mengenaskan, maba yang ingin bertemu Sang Pencipta, di larang dengan tidak boleh mencari air suci.Gedung-gedung berjejeran di kampus tercinta, tidak setiap lantainya menyediakan air yang memadai, harusnya “mereka” paham akan kondis ikampus yang sepert iini. Mencari air tentulah diwajibkan jika ingin menunaikan solat, tapi maba yang baru mengenal kampus mendapat larangan keras, sehingga membuatnya tidak berwudhu.Lantas dengan tatapan kosong juga mengecewakan maba tidak solat.Innalillahi…

Teman, ini bukanlah fitnah atau pun mengada-ngada. Adik maba tercinta dan Allah lah saksinya. Bayangkan salah satu maba, dengan wajah sedih bercerita tentang keempat sahabat ikhwannya yang tidak bisa solat,karena dipersulit untuk wudhu dan melangkahkan kaki ke masjid ketika hariminggu, pertama dilaksanakan ospek.
Bayangkan dalam satu kelompok terdapat empat maba ikhwan yang tidak solat dikarenakan tidak dizinkan untuk mencari air, coba dikalikan dengan jumlah kelompok maba yang ada seribu lebih. Maka ada berapa ratus maba yang tidak solat?
Mahasiswa baru dipersilahkan solat tapi tidak diberkanakan untuk wudhu.Ya, sama saja tidak memberi izin untuk solat.

Baik, kita pahami akan pengertian wudhu. Wudhu menurut bahasa artinya bersih dan indah, sedang menurut syara’ artinya membersihkan anggota wudhu untuk menghilangkan hadats kecil.
Orang yang hendak melaksanakan shalat, wajib lebih dahulu berwudhu, karena wudhu adalah syarat sahnya shalat.
Selain bertujuan menghilangkan hadats kecil, ternyata wudhu memiliki banyak manfaat hal ini ditemukan oleh para peneliti barat. Diantaranya: menjadikan kulit kita awet muda, bersih dan segar dari polusi. Dijelaskan juga dalam suatu kitab (afwan ansa ila kitabuhu) bahwa orang yang selalu mendawamkan wudhu maka malaikat selalu berada disampingnya dan mendoakannya, dan kelak di akhirat nanti wajah orang yang berwudhu akan bercahaya. Hmm jika “mereka” tahu akan hal ini pasti akan berwudhuria untuk menggapai pahala-Nya.
Wudhu banyak manfaatnyakan? Selain mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, juga awet muda loh..hhe tidak salahnya kita rajin berwudhu walaupun bukan menghadapi waktu shalat.

Kemudian,
“ dan dirikanlah shalat dan keluarkanlah zakat dan tunduklah ruku bersama-sama orang-oarang yang pada ruku” (Al Baqarah : 43)
“kerjakanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah perbeuatan yang jahat dan yang mungkar” (Al Ankabut : 45)
Subhanallah, semua pasti sudah hapal di luar kepala akan ayat-ayat tersebut. Itulah sebagian dalil yang mewajibkan kita sebagai umat muslim untuk shalat. Shalat ialah berhadap hati kepada Allah sebagai ibadah, dalam bentuk perkataan dan perbuatan, yang dimulai dengan takbirdan diakhiri dengan salam serta menurut syarat-syarat yang telah ditentukan syara.
Kemudian simak hadist berikut
“siapa orang muslim yang waktu shalat wajib tiba lalu berusaha menyempurnakan wudhu, khusyu, dan rukunya, maka sholatnya itu menjadi penghapus dosa-dosa sebelumnya selama setahun selama dia tidak mengerjakan dosabesar” (HR. Muslim)
Jika kita dapat memahami dan mengamalkan hadist di atas,tentu akan menjadikan kita pribadi yang selalu merindukan adzan berkumandang yang memanggil untuk meramaikan masjid.
Wudhu dan shalat adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.Jika tidak air,maka bertayamumlah. Itulah indahnya agama islam, mengajarkan kita untuk selalu menjaga kebersihan baik jasadiah maupun ruhiyah. Maka tidak tepat dan suatu pelanggaran keras jika ada seseorang yang melarang untuk wudhu tapi membolehkan untuk shalat, maka sebagai saudara muslim tentunya kita wajib saling mengingatkan dikala salah dan selalu mengajak kepada kebanaran. Tidak mau kan nanti di syurga sendirian? Yuk kita saling mengingatkan sesama saudara di kala salah,dan selalu mengajak untuk berada di jalan yang di Ridoi-Nya.
Wallahu’alam ^^
Kenapa sih kaya gini.., coba kalau aku punya. Pasti enak!”
            “Arggh.. dosen jarang masuk tapi tugas seabreg. Haloo pak! Sadar nggak sih”
            “Nggak ngerti apa? Lagi banyak tugas. Selalu ada rapat?!”
            “Lagi sibuk-sibuk! Kok kamu ganggu gw!”
            Mengeluh dan mengeluh, semua pernah merasakannya aku, kamu, dia atau mereka. Sering ataupun jarang, besar atau kecil, sengaja atau tidak disengaja pasti mengeluh pernah terucap dari lisan. Ada yang salah dengan emosi, ada yang salah dengan iman ini. Semakin kita megeluh, si lelah, lesu, lemah, letih dan amarah itu akan datang satu persatu.
            Tidak kuat seperti baja, itulah hati. Terkadang berteriak, menangis, mengeluh, marah.
            Manusia biasa, itulah kita. Tidak seperti malaikat yang sempurna. Butuh banyak dilatih, butuh banyak perjuangan untuk mengatur hati ini.
            BERSYUKUR…
            Salah satu jawaban akan dilema hati. BERSYUKUR membuat nikmat kita semakin bertambah. Jika mengeluh saja, nikmat itu akan hilang.
            Sibuk
Allah sedang memberikan lahan yang luas untuk tabungan di akhirat.
            Sakit,
Alhamdulillah ya nikmati saja, dan tentu ikhtiar untuk sembuh. Sakit bertemankan SABAR akan membuat dosa aku, kamu, dia, mereka berguguran.
            Kantong tebal,
Allah sedang ingin melihat umatnya untuk bersedekah, membahagiakan orang lain.
            Kanton Tipis,
Saatnya aku, kamu, dia dan mereka merasakan apa yang saudara-saudara kita di luar. Saudara kita yang hanya berpakaian yang menempel di tubuhnya saja, atapnya awan, kasurnya hanya tanah.
            Tugas kuliah segudang,
Allah akan melihat seberapa besar perjuangan kita, seberapa kokoh kejujuran kita. (Buat teman-teman ku kelas D, kita berjuang dan sabar menghadapi T.I.K ya..keep smile dan saling bantu ^^)
            Ada yang ingin menembahkan??^^
Setiap kondisi memiliki banyak hikmahnya, Allah tidak akan memberi suatu ujian tanpa ada hikmah yang didapatkan. Bagaimana pun kondisi kita saat ini yang menyenangkan juga menyedihkan adalah ujian-Nya. Kanker(Kantong kering), kantong tebal, sakit, sehat, miskin, kaya, …semua patut disyukuri.
“Maka, sesungguhnya..bersama kesulitan ada kemudahan.
Dan bersama kesulitan ada kemudahan….”
(QS. Al Inysirah:5-6)
Siap pasang senyum termanismu! Karena Allah telah berjanji akan memberikan kemudahan. Muka mu yang kusut, coba rapihkan.. nah itu lebih indah. Senyum bukti kita tegar. Ayuk kita belajar bersyukur!

9.31
11/11/2011
ASWdari pojok Darul Irfan
Masjid Agung Serang, dan Kantor Gubernur akan menjadi saksi akan semangat membadai kaum ibu untuk menyampaikan aspirasi suaranya. Bagi rakyat yang sudah tercekik akan mahalnya kebutuhan sehari-hari, mungkin akan lebih menjadi-jadi, mengingat perihal pemerintah akan menaikan BBM di tanggal 1 April 2012 mendatang.
          Bagi beberapa orang yang sudah berbalut busana mewah, gadget terbaru, kasur empuk, hal tersebut merupakan suatu hal yang biasa saja. Bagaimana dengan mereka yang tidur beralaskan tikar, beratapkan langit? Permasalahan ini membuat keadaan krisis yang mengharu biru bagi masyarakat termasuk Banten.
          Hal tersebut, yang membuat para ibu bergerak hatinya untuk mengadakan aksi turun ke jalan raya, menyusuri jalan dari masjid agung hingga di halangi oleh Sat.Pol.PP di depan kantor gubernur. Senin, 26 Maret 2012, terlihat jelas sepanjang jalan dari masjid Agung hingga alun-alun padat akan ibu-ibu yang menyuarakan jeritan rakyat, kesakitan yang semakin terasa ketika dapur mereka tidak bisa mengepul setiap hari.
          Ada ibu yang menggendong anaknya yang masih belum bisa berjalan. Terdapat ibu yang menggandeng anaknya yang berusia tiga tahun. Tidak hanya satu atau dua orang saja. Banyak, ibu-ibu yang membawa anak mereka dalam beraksi. Belum lagi pukul 14.00 Serang diguyur hujan deras, hal tersebut tidak menyurutkan semangat mereka dalam menyampaikan penolakan BBM.
          Lantas sudah sejauh mana, kita yang disebut-sebut mahasiswa? Sudahkah  berkontribusi untuk masyarakat? Banten? Indonesia?
Bukankah Bung Karno pernah menyanjung kita “Berikan aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Jika kau beri aku satu pemuda, niscaya akan ku guncang dunia”
          Maka, jangan berdiam diri saja! Harus lebih semangat dari ibu-ibu!


Katakan hitam dalah hitam
Katakan putih adalah putih
Untuk kebenaran dan keadilan, menjunjung totalitas perjuangan
Seluruh rakyat dan mahasiswa bersatu padu, bergerak bersama
Berbekal moral, intelektual, selamatkan Indonesia tercinta
            Lagu yang menggetarkan jiwa, membakarkan semangat, menggerakan hati nuranai, lisan dan perbuatan untuk mengatakan “Tidak!” atas kenaikan BBM. Bukankah SBY telah berjanji akan menesejahterkan rakyat?
Cinta KAMMI adalah Pro Rakyat
 Kepedulian tinggi, mengantarkan KAMMI Banten yang terdiri dari KAMMI komisariat UNTIRTA Serang dan Cilegon, IAIN Sultan Maulana Hasanudin, UPI, menuju rumah rakyat “DPR RI”. Jauh jarak tidak menyurutkan niat tulus ini, di kampus UNTIRTA Serang, sejak pukul 05.00 WIB sudah berdatangan satu persatu para kader terbaik KAMMI. Lima puluh lima adalah jumlah peserta KAMMI Banten yang mengikuti aksi nasional.
Perjalanan di mulai sekitar pukul 07.00 WIB dan tiba sekitar pukul 10.00 WIB. Seluruh masa berkumpul di masjid UNJ (Universitas Negeri Jakarta). Kekeluargaan, itulah yang dirasakan KAMMI Banten, sambutan hangat dari berbagai KAMMI komisariat seluruh Indonesia menambah amunisi semangat untuk beraksi.
Setelah masa berkumpul di depan masjid UNJ, aksi langsung dimulai dengan mengelilingi kampus UNJ dengan mengajak masa lainnya dilanjutkan dengan beraksi di jalan raya, dengan memblokade sebagian jalan. Bertambah semangat kembali, ketika KAMMI Madani, KAMMI Bekasi, KAMMI Bogor datang satu persatu. Berbagai alamamater mewarnai jalan-jalan. Maka, bisa dibayangkan begitu banyak KAMMI yang menyuarakan jeritan rakyat bukan?
Tenaga KAMMI adalah solat
Orang munafik namanya jika menganggap solat adalah penghalang kegiatan termasuk dalam beraksi. Banyak dijumpai, organisasi yang sangat bersemangat untuk aksi dan berorasi sehingga melupakan solat. Bukankah  solat adalah senjata ummat muslim? Itulah KAMMI, yang menjadikan jalanan adalah masjid, dimana adzan berkumandang, maka bergegas untuk solat. Karena dalam solatlah KAMMI mendapatkan tenaga. Bahkan pagar DPR RI berhasil dirobohkan oleh tenaga KAMMI yang dahsyat, tenaga itu didapatkan setelah melaksanakan kebutuhan solat jumat. Patutlah bangga karena KAMMI menjadi garda terdepan akan keberhasilan kunci masuknya masa menuju rumah rakyat.
Ukhuwah KAMMI adalah Semangat
Berada dalam border nan kuat, berpegangan tangan. Tak mengetahui, tak mengenali, siapa di kanan-kiri, hanya satu yang dapat diketahui yaitu bahwa kita adalah keluarga besar KAMMI, dalam genggaman erat jari jemari itu membakar semangat untuk saling melindungi satu sama lainnya. Bahan bakar semangat akan semakin bertambah dan terus bertambah ketika satu rombongan berdatangan dari berbagaia penjuru daerah. Maka gema takbir dahsyat menyambut saudara-saudara satu perjuangan! Allahu Akbar!!
“Biarkan panas hari menjadi saksi kita
teriak teriak, langkah-langkah kaki yang kita lakukan.
Mari kita luruskan niat kita
Bukan atasa nama organisasi!
Bukan atasa nama daerah-daerah kita!
Bukan atas nama almamater kita!
Tapi, atas nama satu. Kebenaran dari Allah swt!
Allahu Akbar!”
Orasi dari akhwat perwakilan KAMMI Bogor, menampar secara halus ketika niat mulai berbelok, dan juga membangkitkan amunisi semangat kami, ketika lelah, letih mulai mendera.
Inilah KAMMI..
Cinta KAMMI adalah Pro Rakyat
Tenaga KAMMI adalah solat
Ukhuwah KAMMI adalah Semangat
Maka, jangan pernah lelah mencintai KAMMI, jangan pernah letih mencintai rakyat Indonesia!!! Allahu Akbar!!


Kami putra dan putri Indonesia
Mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu,
bangsa Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa   persatuan,
bahasa Indonesia
Hari sumpah pemuda yang kita peringati setiap tanggal 28 Oktober merupakan buah manis hasil perjuangan pahit para pemuda terdahulu. Tidak sekedar sebagai perayaan melainkan tumbuhnya semangat nasionalisme yang tinggi sangat diperlukan oleh negeri ini. Sebagai penerus pahlawan tidak selayaknya kita diam dan tertidur dengan keadaaan negeri tercinta, Indonesia.
Rasanya dewasa ini sangat mudah menemukan pemuda yang sedang asyik duduk di pinggir jalan sambil memegang gitar juga melantunkan nyanyian pop dengan suara apa adanya. Tidak sedikit pemuda yang sudah mendapat gelar mahasiswa lebih menyukai “nongkrong” sehingga mendapat julukan kunang-kunang yaitu kuliah nangkring. Sebutan kupu-kupu juga tidak asing di beberapa kalangan pendengar, kupu-kupu yang berarti kuliah-kuliah pulang. Kupu-kupu bukanlah pemuda harapan Indonesia. Bahkan ada yang menciptakan suatu perkumpulam hobi shopping. Hal itu telah menunjukan bahwa pemuda Indonesia sudah terkena penyakit hedonis, individualis.
Negara barat yang terkenal oleh gaya hidupnya yang bebas, pakaian serba terbuka, kini sudah menjadi sorotan para pemuda Indonesia, tidak sedikit generasi muda yang mengikuti budaya tersebut. Trend dari negara barat tanpa adanya kemampuan memfilter dengan baik akan budaya barat yang masuk tentunya lambat laun menjadikan genarasi bangsa lemah dan tidak peduli terhadap keadaan Indonesia saat ini.
Menoreh ke belakang. Puluhan tahun lalu,  para pahlawan sudah berjuang dengan pikiran, bahkan hingga hembusan nafas terakhir. Kini giliran pemuda untuk rela mengorbankan segala apa yang dia miliki seperti tenaga, pikiran dengan menyumbangkan ide-ide cemerlang untuk memajukan negeri bahkan jika perlu mengikuti jejak para pahlawan sebelumnya yaitu nyawa.
Sudah saatnya sebagai pemuda bersemangat bangkit dari kemalasan, keegoisan, kelemahan dan tidak hanya berdiam diri dan berpangku tangan. Negeri ini sudah merindukan pemuda yang memiliki semangat tinggi untuk memajukan negeri yang kaya akan segala-galanya.
Banyak permasalahan yang pelik terjadi di dunia salah satunya Indonesia yang kini sudah terkenal akan para pejabatnya yang korupsi. Lantas, relakah jika mereka yang terus memimpin negara ini?
Pemudalah yang akan menggantikan orang-orang yang telah melalaikan amanahnya. Tidak semua pemuda berhak menggantikan singgasana penuh amanah, hanya pemuda pilihan yang pantas dalam memimpin dunia untuk lebih baik. Tidak hanya sembarang kursi yang akan diduduki melainkan adalah kursi yang merupakan aspirasi rakyat, dan tanggung jawab yan akan dipertanyakan baik saat ini juga alam kekal.
Meniru kekasih Allah, yang memiliki sifat sidiq, amanah, fathonah dan tabligh akan menyiapkan pemuda sebagai penggerak dunia.
  • Sidiq yang memiliki arti jujur. Jujur dalam setiap kegiatan tanpa adanya suatu noda kebohongan.
  • Amanah yang berarti dapat dipercaya. Amanah sangatlah mahal karena jika kepercayaan dilalaikan kemudiaan akan menimbulkan banyak kekecewaan dan juga merupakan bentuk dari kedhzaliman.
  • Fathonah adalah cerdas. Tidak hanya kecerdasaan dalam intelektual, namu emosioanal juga spritual sangatlah diperlukan untuk pemuda.
  • Tabligh yaitu menyampaikan. Sebagai pemuda yang dipenuhi rasa semangat positif, maka dalam menyampaikan  tidaklah ragu untuk mengatakan mana yang benar dan salah.
Tidak lepas oleh satu kata yaitu semangat, tetapi bukan semangat karena harta dan dunia melainkan semangat untuk mendapatkan rido-Nya. Semangat yang tulus untuk menggapai rido illahi akan menjadikan pemuda yang kaya ilmu juga tinggi ahlak.
Tingginya rasa semangat untuk merubah diri, maka dunia pun akan bergerak mengikuti perubahan semangat yang terjadi pada diri pemuda. Dunia dan pemuda tidak dapa dipisahkan. Di tangan para pemudalah, penentu kemajuan dunia. Jika di dunia seluruh pemudanya tidak bersemangat, bermalas-malasan dan mengisi kehidupan dengan berfoya, maka dunia lambat laun akan mati karena kemungkaran yang telah dilakukan, tetapi jika pemuda semangat menggapai rido-Nya dapat dipastikan dunia dan seisinya akan maju lebih baik. Inilah keterkaitan antara pemuda dan dunia. Pemuda bersemangat, dunia bergerak!.
Anis Sofia © 2016