Selasa, 23 Januari 2018


“Suatu bangsa tidak akan maju, sebelum ada di antara bangsa itu segolangan guru yang suka berkorban untuk keperluan bangsanya.” (Moh. Natsir, mengutip Dr. G. Nieuwenhius)
Guru? Satu profesi yang tidak pernah aku idam-idamkan sebelumnya. TNI wanita, dokter, penulis, pelukis adalah daftar nama profesi yang aku cita-citakan sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Hingga tingkat akhir SMA, ibu dan bapak kompak mengarahkan aku untuk berkuliah di Fakultas Keguruan dengan mengambil jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Apakah aku mau?

2015 aku lulus dari strata satu jurusan yang awal mula aku tak minat sama sekali, tapi bertambah hari, bertambah pula rasa penasaran dan aku jatuh cinta. Maka, tidak heran dari semester lima aku selalu bermanja menatap layar monitor mencari informasi mengenai guru pedalaman, baik artikel, lembaga yang mengadakan program, dan video guru-guru di perbatasan negeri. Tidak ada niat yang mulia: berkontribusi untuk negeri, meretas disparitas pendidikan, mengabdikan diri, meratakan pendidikan, turut menyelesaikan kesenjangan pendidikan. Jauh! Jadi salah kalau banyak orang berpikiran seperti itu. Hanya satu yang membuatku tergila-gila pada ‘pelosok’

Kamis, 03 November 2016


Ada ruang-ruang hampa di hati. Dia berbisik halus merambat ke sanubari, rindu sebutannya. Lambat, namun dia mampu melumat perasaan. Kerinduan tanpa tahu pertemuan kapan terjadi adalah pesakitan yang merinsek masuk lalu melemahkan, adakah rindu yang bisa melegakkan hati?

Sore ini seperti pagi yang masih tersepuh embun, nada dering panggilan berbunyi nyaring di tengah riuhnya murid-murid berebutan memasuki kelas. Sebuah nomor baru memanggil.

“Assalamu’alaikum! Maaf siapa?” dahiku mengkerut.
“Wa’alaikumussalam, Ilham! Saya Ilham bu!” Ada dentuman dahsyat setelah mendengar suara yang masih sama:  polos dan masih kanak-kanak.
“Ilham? Ilham ko sehatkah, Nak?”
“Iyo bu Alhamdulillah, ibu sehatkah?” tanyanya dengan nada yang malu-malu.
“Iyo sehat! Ko betahkah di MTS? Ilham, e ibu senang apaaa ko ada telepon ibu” wajahku berseri-seri tidak peduli pengajar bimbel lainnya melihat dialegku yang berbeda dari biasanya.
“Iyo ibu, sa sangat betah di MTS. Sa banyak belajar! Ibu terima kasih e!”
Ilham, si galak yang menangis karena Yassin menelponku. Rasanya? Bagaikan mimpi. Seperti ibu yang baru menjumpai anaknya yang sudah terpisahkan hitungan tahun lamanya. Ilham si gagah yang ditakuti karena perangainya yang keras, namun mudah menangis ketika menemukan Yassin miliknya rusak kini sudah sekolah di MTS Kolobo Sorong, berpisah ratusan kilometer, terhalang oleh tanjung, bukit, dan pulau terlebih dengan keluarga dan teman-teman yang dicintainya.

“Sa senang e ibu di sini”
Syukurku tidak henti mendengarnya mengatakan  bahwa dia betah dan senang untuk sekolah berasrama di MTS Kolobo.
“Ibu, ini sa pu nomor Bu. Ibu simpan sa pu nomor e!” Bel masuk memanggil dengan lantang, di penguhujung telepon dia berpesan singkat untuk meminta saya untuk menyimpan nomornya.
Ternyata, ada suara yang mampu mengisi ruang, hingga mampu memejamkan mata sambil mengukir senyum.
http://www.imgrum.net

Bentuknya bulat, mungil, sebesar ibu jari, dijual dengan harga Rp. 500,-. Kecil-kecil cabe rawit, biar pun bentuk si Sala Lauak kecil, jangan salah, makanan khas Pariaman ini banyak mengandung manfaat. Sebelumnya, sudah tahukah Sala Lauak itu apa? Secara harfiah Sala berarti goreng dan Lauak memiliki arti ikan. Ikan goreng? Ya, bisa diartikan seperti itu. Tapi dalam penyajiannya, tidak hanya sekedar digoreng lalu dikasih bumbu loh.

Yuk, mencoba di dapur masing-masing! Walaupun belum berkesempatan ke Tanah Minang, resep Sala Lauak ini sangat mudah didapatkan. Bahan pokoknya berupa ikan teri dan bumbu-bumbu. Bahan adonannya yaitu tepung beras, jahe, kunyit, bawang merah, bawang putih, cabe giling halus, garam halus, air mendidih, daun kunyit, dan terakhir minyak sayur untuk menggoreng. Nah, sangat mudah didapat kan?

Setelah bahan dan bumbu sudah terpenuhi, saatnya mengeksekusinya untuk menjadi Sala Lauak yang membuat lidah bergoyang. Siapkan bumbu, lalu giling halus ikan teri, jahe, kunyit, bawang merah, dan bawang putih. Kemudian iris halus daun kunyit.

Bumbu sudah halus, tepung beras tidak bisa langsung dicampur menjadi adonan, melainkan harus disangrai selama sepuluh menit. Cara memasak tepung beras, harus selalu diaduk agar matang merata dan tidak gosong. Ketika tepung beras sudah siap, saatnya irisan daun kunyit dan garam dicampur lalu diaduk kembali hingga merata.

Taraa! Tepung beras sudah siap! Bumbu yang sudah dihaluskan sebelumnya kemudian ditambahkan ke tepung beras yang sudah disangrai tersebut, tidak lupa cabai giling menjadi pelengkap. Rasa pedas dari si Sala Lauak didapatkan dari cabai giling ini, masakan Padang memang terkenal akan pedasnya, bagi kamu yang tidak terlalu suka dengan pedas bisa memasukkan cabai giling sesuai selera. Masukkan air mendidih sebagai penyatu dari semua bumbu dan adonan, aduk dengan baik hingga adonan menjadi rata. Air tidak bisa dipastikan seberapa banyak yang dituang, terpenting adalah jangan sampai si adonan menjadi terlalu basah. Patokkan si adonan siap yaitu  dapat dicoba sudah bisa dibulat-bulatkan atau tidak. Siapkan minyak sayur dengan jumlah banyak dan nyalakan kompor dengan api sedang. Tara! Selamat menggoreng!

Gampang bukan, menyajikan Sala Lauak? Jika, selama ini sudah bosan mengolah ikan teri sebagai oreg tempe teri, sambal teri, teri kacang, Sala Lauak bisa menjadi alternatif masakan yang patut dicoba. Tidak usah pergi ke Jam Gadang, di dapur rumah tersayang pun bisa kita hidangkan.

Nah, Sala Lauk yang berbahan dasar ikan teri ternyata banyak mengandung manfaat. Ikan teri mengandung gizi yang tinggi. Jika, kita mengolah ikan teri sebanyak 100 gr ada sekitar 10,3 gr protein  yang terkandung di dalamnya. Protein sendiri bermanfaat untuk pertumbuhan, pembentukan jumlah otot dan kekuatan daya tahan tubuh. Selain itu, kalsium yang terkandung dalam ikan teri bisa setara dengan susu untuk memenuhi kebutuhan kalsium dalam tubuh. Kandungan lainnya yaitu fosfor, zat besi, vitamin A, vitamin B1, dan si ikan teri memiliki lemak yang rendah, so jangan takut kegemukan ya.

Manfaat ikan teri sudah kita ketahui, jadi jangan pernah bosan untuk mengolah ikan laut yang penuh kaya gizi ini. Apalagi jika diolah menjadi Sala Lauak dihidangkan bersama teh ataupun kopi, bisa dinikmati secara bersama-sama ataupun seorang diri, bisa di saat sarapan, teman duduk santai atau pun sahabat di kala menunggu hujan reda. Sala Lauak si kecil-kecil cabe rawit ini bisa menjadi cemilan yang asik juga mengenyangkan, selamat bersantai ria dengan makanan bergizi tinggi!


#JelajahGizi  #JelajahGiziMinahasa #Sarihusada #Nutrisi Untuk Bangsa



Rabu, 26 Oktober 2016

Bontot, doc: Farid Supriadi

Bontot yang merupakan istilah bahasa Serang-Banten yang memiliki arti bungsu atau anak paling terakhir. Mungkin inilah asal muasal kenapa dinakaman bontot, karena si bontot adalah makanan yang bentuknya mungil.

Apakah bontot hanya dirasakan kelezatannya untuk anak bontot alias bungsu? Tentunya tidak, bontot makanan gurih dapat dinikmati siapa saja,  terlebih bagi mereka yang sangat suka dengan olahan ikan dan masakan yang bergizi tinggi, dan tentu aman di kantong, karena harga si bontot sangatlah terjangkau, satu gorengan bontot dihargai dengan Rp 500,-.

Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa dan tentu ikan-ikan yang menari di perairan laut, payau bahkan sungai menjadi anugrah tersendiri untuk masyarakatnya. Masyarkat di Desa Desa Domas, Kecamatan Pontang, Serang, Banten  menjadi salah satu masyarakat yang menikmati anugrah kekayaan ikan laut dan ikan payau. Di Desa Domaslah, lahirlah makanan bontot yang berbahan dasar ikan payus.

Ikan Payus yang memiliki nama ilmiah Sillago sihama merupakan bahan utama pembuatan Bontot. Pernahkah mendengar nama ikan bandeng laki,  burjun, bojor, peren, seperen, wariyung, kacangan dan ubi jurjun? Itu adalah sebutan ikan payus di beberapa daerah di Indonesia. Tidak hanya Desa Domas saja yang membudidayakan ikan payus, Jepang dan beberapa negara di ASIA lainnya juga memilih ikan payus menjadi daftar ikan yang dibudidayakan di negaranya masing-masing. Banyaknya kalsium yang terkandung dalam tulang ikan payus bisa diolah menjadi tepung untuk pembuatan aneka makanan lainnya, itu baru tulang loh, bagaimana dengan dagingnya? Sudah pasti banyak memilik gizi dan protein yang baik untuk tubuh.

Membuat adonan bontot tidak jauh berbeda dengan makanan khas Palembang, yaitu mpek-mpek. Perbedaaan dari kedua makanan tersebut yaitu  terdapat dari bahan ikan. Mpek-mpek berupa hasil adonan dari ikan tenggiri sedangkan bontot berbahan ika payus. Bontot lebih harum dibandingkan mpek-mpek karena menggunakan bahan ikan payus.

Tepung tapioka, daging ikan payus, bawang merah, bawang putih, merica, garam, gula dan air panas menjadi komposisi bontot. Bagi yang belum pernah jalan-jalan ke tanah Jawara, jangan berkecil hati, kamu dapat mencoba membuatnya di dapur sendiri, bahan-bahan tersebut tidak asing dan mudah diperoleh, ya kan? 

Bumbu-bumbu yang sudah disediakan dihaluskan, kemudian  campur semua bahan dan bumbu dengan air panas hingga adonan menjadi kalis. Setelah adonan sempurna dibentuk bulat memanjang, lalu dikukus hingga setengah matang. Bontot yang sudah dikukus dan ditiriskan, lalu dipotong sesuai selera  dan siapkan minyak panas, lalu goreng.
 
Kerupuk Ikan Payus, doc: Farid Supriadi
 

Sambil mendayung dua, tiga pulau terlampui

Rasanya tepat pribahasa tersebut untuk si bontot mungil ini, karena ketika membuat adonan bontot itu sama saja dengan menyiapkan kerupuk ikan payus. Perbedaannya terlatak di penyajiannya yang setelah dikukus. Jika penasaran ingin merasakan renyah dan kriuknya kerupuk ikan payus, sebagian bahan yang sudah jadi bisa disuguhkan menjadi bontot, dan jika masih ada sisa, bisa digunakan lagi yaitu dengan diiris tipis-tipis lalu dijemur, setelah kering kemudian digoreng. Taraaa! Di meja makan sudah tersedia dua ikan olahan ikan payus, bontot dan kerupuk ikan payus. Sangat mudah bukan?

Bontot sangat enak dinikmati sebagai sarapan, sebelum berangkat kerja dan lebih seru menjadi teman kongkow bersama teman atau sanak keluarga. Lebih yummy dicocol dengan sambal kacang. Selamat menikmati Bontot di mana pun kamu berada! Jika ada waktu dan kesempatan, melipirlah, berjalan-jalan ke Kota Serang yang penuh sejarah kerajaan islam sambil menyaksikan pembuatan bontot secara langsung oleh koki handal ibu-ibu di Kampung Domas!

#JelajahGizi  #JelajahGiziMinahasa #Sarihusada #Nutrisi Untuk Bangsa
SOFIA WARDAH © 2016